Senin, September 01, 2014

SPG, Beban Di antara Usaha Laris



Belakangan ini, saya sengaja mengamati kondisi kedai es degan durian saya, REGES ICE. Sebelumnya, kepada para pembaca, saya mohon maaf apabila isi tulisan ini sedikit ada tabunya.

Begini, saya sering mendengar, mengamati, sekaligus sedikit pernah mengalami sendiri, bahwa usaha di zaman ini kalau ingin sukses harus memakai cara atau media ini: wanita. Istilah trendnya: Sales Promotion Girl (SPG). Dalam usaha apa saja. Baik barang maupun jasa. Baik usaha besar apalagi kecil atau pemula yang ingin besar.

Contoh realnya, mau buka warung kecil-kecilan, misalnya. Kalau ingin cepat menjadi besar atau laris manis, maka rekrutlah wanita-wanita muda untuk menjaga, apalagi berpakaian bikini. Tanpa butuh waktu lama pasti ramai pengunjung. Tak pandang enak tidaknya menu, atau strategis tidaknya tempat, yang memenuhi target SPG ini tetap akan ramai.

Soal ini, hampir semua teman-teman usaha maupun teman non-usaha saya mengamati dan mengamini terobosan usaha terngetren ini.

Di sisi lain, saya juga merasakan dan mengamati hal ini sendiri, teori SPG ini memang terbukti. Saya sendiri sampai-sampai juga merasakan dan terpengaruh. Sering kali kalau sudah bepergian bersama teman-teman, ingin beli-beli apa saja dilihat dulu: ada cewek cantiknya atau tidak. Kalau ada, senang sekali, bahkan ingin berlama-lama, apalagi berupa makan-makan. Kalau tidak ada tidak jadi. Gara-gara  ini jadinya, tidak mau beli bisa menjadi beli, atau awalnya beli sedikit menjadi beli banyak.

Tidak hanya mengamati atau terpikat dengan cara ini, meski masih sederhana, dan tidak terlalu ke-SPG-an, paling tidak dekat-dekat dengan terobosan SPG ini, saya lengkapi kedai es degan durian saya dengan media hiburan FREE WIFI plus full vidio musik dangdut house-an. Saya stel komputer saya dengan video-video musik jingkrak-jingkrak atau koploan itu. Saya dounlod dari internet klip-klip pemikat itu. Saya tulis besar-besar di banner es degan saya, FREE WIFI.

Hasilnya betul, es saya lebih ramai. Terutama jadi cangkruan anak-anak sekolah. Mereka lebih senang karena di samping bisa nge-es juga bisa sambil internetan gratis.

Lain lagi dengan ini, ada beberapa orang tua yang nge-es. Melihat di monitor komputer saya ada goyangan yang menarik mereka langsung duduk sambil nonton. Tampaknya sambil tersenyum-senyum senang. Mereka menjadi nyantai-nyantai lama sambil menikmati tontotan goyangan hot yang bergiliran antara lagu yang satu dengan lainnya. Ada kira-kira 50an lagu yang terdaftar hasil donloudan. Di antara bapak-bapak itu ada beberapa yang tambah porsi.

Begini tiap hari yang terjadi di kedai es degan durian saya. Lebih ramai dari pada sebelum ada hiburan FREE WIFI dan musik housenya. Dengan begitu saya memang senang sekali.

Tapi kesenangan ini menjadi sisi yang terkecil dalam diri saya.

Sisi saya yang terbesarnya: saya terbebani. Ada rasa kepikiran: mengiming imingi atau memikat pelanggan dengan maksiat. Jangan-jangan ada orang yang sebelumnya tidak tahu musik koploan, setelah nonton di kedai saya jadinya tahu apalagi kalau sampai ketagihan, pulang ke rumahnya suka ngoleksi kaset-kaset itu. 

Atau setidaknya, sudah jelas, mereka menontonnya. Ini menyebabkan mereka berdosa. Sehingga sudah barang pasti saya juga ikut berdosa. Saya penyebab mereka berdosa. Sebab akibat adalah satu kesatuan. Sama.

Dalam kaidah fiqhiyah disebutkan, “Al-Amru bissyai’i amrun bi wasa’ilihi”. Perintah untuk melakukan sesuatu adalah juga perintah untuk wasilah, media, alat, cara, atau upayanya. Begitu juga, larangan. Larangan terhadap sesuatu aslinya adalah untuk mengharamkan, wasilahnya juga ikut di dalamnya (dosa). “Annahyu ‘anis syai’i nahyun ‘an washilatihi”. Larangan terhadap sesuatu maka juga larangan terhadap cara atau media yang menyampaikan kepada larangan itu.

Sehingga, dari qawaid ini bisa kita pahami, hukum washilah tergantung pada tujuannya. Contohnya, ya pengalaman saya ini: nonton film hot adalah maksiat dan dosa. Maka, saya sebagai penyedia washilah film itu juga berdosa. Karena, kalau noton film hot itu larangan dan berdosa, maka saya juga dilarangan menyetelkan atau menyediakan.

Saya tidak mungkin tega kepada diri saya sendiri: dapat keuntungan dari jalan buruk. Keberuntungannya sementara, tapi ujung-ujungnya mala petaka. Saya bertanggung jawab kelak di akherat.

Sementara keberuntungan di dunia sesaat saja. Sehingga, alangkah ngerinya jika keberuntungan sesaat yang kesengsaraannya abadi itu lebih dipilih.

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS, Al-Isra’: 18-21)

Tidak sampai makin lama, tapi tak sampai seminggu, saya sadar ini. Akhirnya saya tidak memakai media tabu itu lagi. Terutama klip dangdut hot itu. Namun tidak saya tutup semua. Hanya saya, ibarat volume, saya kecilkan volume tabunya: saya rubah dangdut Mp3-an saja. Suaranya saja tanpa gambar. Soal WI FI-nya, saya husnudhon saja. Sambil saya niatkan sejak awal masang, untuk membuka-buka situs yang bermanfaat dan keagamaan. Nambah ilmu. Ini bahkan lebih bagus.

Saya tidak perlu kepikiran atau kawatir lagi para pengunjung es membuka-buka situs porno. Lagi pula, tidak mungkin yang macam-macam ini terjadi, sebab kedai  es saya terbuka. Tidak ada tempat atau kondisi yang mendukung atau memancing untuk mengakses situs-situs itu.

Sekarang, saya tidak perlu kepikiran lagi, dengan FREE WI-FI dan es yang masih laris manis. Sedikit kepikiran soal musik saja. Dikit-dikit dan pelan-pelan akan saya buang. Atau saya ganti dengan musik yang lebih bermanfaat. Toh, lantas bukan berarti saya akan menggantinya dengan Al-Qur'an atau salawatan digital. Sebagaimana ada ide dari seseorang. Sebab, Al-Qur'an dan salawat bagi saya bukan hiburan dan tontonan di warung-warung, melainkan keduanya adalah ibadah, tuntunan, dan pedoman hidup yang suci dan mulya.

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan
dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Yasin/36:12)

Jatikerto Malang, 28 08 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar