Sabtu, Desember 06, 2014

Kaya Miskin Sama Mati


Bincang-bincang itu topiknya dipengaruhi oleh siapa teman ngobrolnya. Kalau temannya seorang petani ngobrolnya ya tidak jauh dari pertanian. Jika temannya  orang-orang kejawen, isinya ya tidak jauh dari kejawen. Kalau temannya pengusaha dan pengrajin emas, ya omongannya tidak jauh dari emas. Bila temannya seorang ustadz, ya dialognya soal agama. Meski siapapun bebas punya hak ngomong apa saja yang bukan dari profesi atau latar belakangnya. Apalagi khususnya di negri kita ini negri demokrasi. Negri bebas berorasi dan berkreasi.

Secara pribadi, saya punya teman dengan profesi apapun: dari tukang becak, loper koran, tukang batu akik, pelaku kejawen, dukun, bajingan, sampai politikus. Semua teman ini memiliki keindahan tersendiri yang dapat mengisi dan menambah investasi pengalaman saya. Saya akrabi semuanya tanpa pandang bulu.

Topik yang paling netral dan dibincangkan oleh siapapun saya bertemu dengan nereka adalah soal dunyo, usaha, jelasnya uang. Ini sebagai bukti bahwa siapapun butuh uang. Siapapun ujung-ujungnya mencari uang. Dan apapun bisa dijadikan jalan atau alat menghasilkan uang.

Apalagi zaman sekarang, tidak pandang batas atau banyak aturan, pokoknya menghasilkan uang.

Di zaman ini, tidak heran lagi ada seseorang hanya duduk-duduk di depan komputer dia bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Juga bukan hal yang tabu lagi kalau banyak seorang ustazd atau kiai menarget harga ceramah-ceramahnya yang dengannya bisa kaya raya bermobil mewah berumah megah. Pun tidak aneh lagi banyak yang berlatih menjadi para normal atau dukun, karena ini memang menjadi cara potensial menghasilkan uang banyak.

Soal uang juga tidak ada batasnya dan tidak pernah terhenti. Bukan karena sudah kaya lantas sudah santai atau mandeg berkerja. Atau bukan karena miskin lantas kebingungan mencari uang. Sekarang, yang uangnya sudah trilyunanpun masih sibuk mengurus uang ngalah-ngalahi yang miskin. Bukan karena melestarikan usahanya atau mengembangkannya, akan tetapi karena masih kurang dan kurang, setidaknya usahanya takut tersaingi.

Sekarang, yang dibilang orang miskin karena kelaparan atau kurang makan semata juga jarang sekali. Yang ramai adalah orang yang merasa miskin sekarang ini adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan senang-senang, atau orang yang tidak mampu paling tidak membeli sepeda motor baru, atau orang yang belum mampu membangun rumah mentereng. Ini yang merasa atau disebut miskin. Yang miskin betul-betul karena kurang makan sangat amat langka.

Seakan-akan sekarang, orang menjadi miskin semua. Semuamya sama-sama kebingungan mencari uang hingga dengan berbagai carapun.

Pemikiran-pemikiranseperti ini saya dapat dari bincang-bincang di warung-warung kopi, di rumah-rumah, di masjid-masjid dan di manapun saat saya bincang-bincang dengan teman-teman dari latar berlakang apapun. Sampai-sampai ada di antara mereka yang menyimpulkan begini:

"Orang kaya mati karena kekurangan, orang miskin mati karena keinginan."

Artinya, yang kaya mati kekurangan, karena masih saja bingung cari uang, harta  sudah melimpah masih merasa kurang, hingga matinya. Yang miskin mati dalam keinginan, karena bingung cari uang gak sampai-sampai mewujudkan keinginannya hingga datang ajalnya.

Tapi tidak semua orang kaya dan miskin seperti itu, meski sedikit sekali.

Mari kita belajar ati-ati dengan merenungi jawaban seorang sufi Hasan Bashri ketika ditanya perihal kezuhudanya ini: “Apa rahasia zuhudmu di dunia ini? Beliau menjawab: aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal soleh. Aku tahu Allah Ta'ala selalu memerhatikanku, karena itulah aku malu jika Allah melihatku sedang dalam maksiat. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan Allah.”

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS, Al-Fathir: 5)

Sumber Tempur Malang, 06 12 2014 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar