Jumat, Desember 05, 2014

Saya Antara Impian dan Kenyataan


Menulis, adalah hobi terutama saya. Lebih-lebih menulis ini menjadi misi andalan almamater saya dulu di pesantren. Pak Kiai mewanti-wanti santri-santrinya harus bisa menulis. Jadi apa saja di masyarakat. Jadi petanipun harus menjadi petani yang bisa menulis.

Secara pribadi, saya sebagai seorang wirausahawan saya pegang pesan Kiai itu, saya harus bisa menulis. Setidaknya agar anak cucu saya bisa membaca jejak-jejak hidup saya. Tidak ada waktu bagi saya untuk tidak menulis. No Day No Writing.

Menulis bukan karena sekolah tinggi, atau jadi pejabat tinggi. Menulis juga tidak menunggu bisa, tapi dengan menulis baru bisa.

Nasib memang tidak menentu dan tidak ada yang tahu apa jadinya kita di dalam mengisi giliran hidup di atas bumi ini. Manusia hanya bisa berusaha dan merencanakan. Tak bisa memastikan jadinya apa dan sampai akhirnya bagaimana.

Diri saya, saya contohkan. Dulu, berawal dari sekolah dasar (MI dan MTS) di pedalaman desa, saya bercita belajar di sebuah pesantren modern,yang pelajarannya lengkap, ada bahasa arab inggrisnya, yang sangat jauh dari rumah sehingga tidak pulang-pulang. Meski libur tidak pulang. Paling tidak setahun sekali.

Sebagai anak desa, di desa saya saat itu, seorang pemuda bercita demikian sangatlah asing sekali. Bahkan bisa jadi cemohan yang tak masuk akal. Kedua orang tua saya dapat cemohan itu, buat apa sekolah tinggi toh kembalinya tetap jadi petani miskin, katanya.

Tradisinya, paling banter sampai SMA adalah sudah paling tinggi. Setelah itu bekerja atau nikah. Apalagi bagi anak wanita, selesai MA atau SMP langsung dinikahkan.

Tapi, tradisi demikian tidak berlaku bagi keluarga saya. Orang tua saya meski orang tani tulen, masih menyadari betapa pentingnya pendidikan. Begitu juga saya. Entah, tiba-tiba saat itu, saya berpikiran idealis sepertiitu. Asalnya simpel saja, saat itu saya terinspirasi ketika nonton televisi di rumah tetangga. Saat itu yang punya televisi satu kampung sangat bisa dihitung dengan jari. Saya berpikiran ingin menjadi maha siswa yang bersepatu dan berdasi seperti yang ditayangkan di sinetron-sinetron yang saya tonton.

Ternyata impian akademis ini bersamaan dengan kehendakTuhan, saya betul-betul mondok di sebuah pesantren modern, persis yang saya impikan. Jauh sekali. Bahkan menyebrang selat. Berbahasa resmi asing, arab inggris. Juga berdasi, setidaknya waktu program-program khusus di kelas seperti latihan pidato. Bahkan saya selesai sampai sarjana. Saya dapat tugas ngajar selama kuliah, jadi guru memakai dasi saben hari. Mimpi saya yang melanggar logika tradisi kampung saat itu menjadi nyata.

Teman-teman saya yang taat pada tradisi saat itu, sekarang hampir semuanya sudah bercucu. Ngerumput tiap hari memelihara sapi. Tapi giliran selanjutnya saya tidak tahu mereka menjadi apa.

Saat di pesantren, saya juga berimpian. Meski impian saya tidak jelas profesinya. Pokoknya di pikiran saya menjadi orang yang tidak biasa, yang tidak hanya bermanfaat seperti biasa bagi orang lain. Setidaknya, saya memiliki lembaga pendidikan yang mendidik santri banyak dari mana-mana asalnya, seperti kiai saya di pesantren meski saya bukan Kiai.

Oleh karena itu saya berambisi sekolah harus terus lanjut, sampai selesai S3. Soal nikah, itu nomor ke 99 nya dari ibarat impian saya berjumlah 100.

Namun, kali ini, impian saya itu tidak mulus (untuk mengganti istilah gagal, sehingga bukan kegagalan) seperti impian saya ingin mondok dulu.Tuhan menginginkan yang lain dari apa yang ada pada angan-angan saya itu. Tapi saya yakin, tentunya ini lebih baik dari Tuhan. Karena Tuhan memang Maha Baik apapun jadinya.

Singkat cerita dan tak disangka nyatanya lulus sarjana di pondok saya nikah, tidak jadi lanjut ke S2.

Saya berkeluarga, membuat saya terdampar pada sebuah pertarungan hidup yang sesungguhnya, saya bekerja memenuhi nafkah keluarga.

Awal kali menjadi seorang sales emas menawarkan emas di toko-toko pasar. Begini tentunya membuat saya lebih sering ke luar rumah. Tiap hari saya pergi ke pasar-pasar.

Singkat cerita. Perkembangannya baru setahun jadi seles, saya mempunyai toko perak juga ada beberapa emasnya. Baru setahun punya toko perak emas saya bisa buka cabang satu. Pada akhirnya, bangkrut.

Sekarang, saya di rumah saja menjadi penjual es degan durian sambil merintis mengajari anak-anak kecil mengaji. Dan alhamdulillah sudah dua TPQ yang saya rintis. Keduanya saya yang ngajar sendirian. Gratis. Dan yang satu sedang proses pembangunan menjadi lembaga pendidikan pesantren yang juga menampung yatim piatu. Meski saya tidak menjadi kiai.

Soal usaha, saya tidak terlalu ngotot lagi. Yang penting saya bisa memberi sesuatu kepada selain diriku walaupun berupa pengajaran alif ba' ta'  kepada anak-anak kecil di desa pedalaman. Kalau memang ada taqdir kaya, pada saatnya tiba juga.

Sambil melateni anak-anak kecil belajar mengaji dan menjadi orang cerdas buat agama dan bangsa, saya juga masih memiliki cita-cita menjadi orang kaya namun juga mulya, saya melateni kuliner yang inovatif, dari kecil tapi melangkah pasti: Es Degan Durian, degan buah naga, alpokat, jeruk, susu madu,dan degan joss.

Ini inovssi es sy. Sy ingin inovasi kuliner saya go nusantara bahkan internasional layaknya Pocari Sweet. Impian yang agak lebay memang. Tapi bukankah kebanyakan orang-orang sukses itu dulunya juga impiannya lebay-lebay?!

Filosofinya: bercitalah setinggi langit, sehingga jika tak sampai paling tidak jatuh di atas bukit. Masih tinggi.

Soal kuliah, saya tetap ngotot, tidak bisa tahun ini, ya tahun depan. Pokoknya saya harus selesai kuliah. Sambil sementara belajar dengan anak-anak, dengan alam, dan dengan Es Degan Durian.

Jatikerto Kromengan Malang, 09112014 M

1 komentar:

  1. Tentang menulis saya sendiri juga ingin bisa meninggalkan jejak cerita yang akan bisa di baca anak cucu kita. namun ketika bergulat dengan kehidupan, apalagi menjadi seorang ibu sungguh penuh tantangan dan diperlukan komitmen yang tinggi agar terus dapat menulis.
    Saluut Pak kisah hidupnya

    BalasHapus