Jumat, November 20, 2015

Mustika Merah Delima dan Surah Al-Ikhlas

Inilah sejatinya mustika merah delima itu.

Ada beberapa orang sowan kepada seorang kiai kharismatik. Perbincangannya soal barang antik.

Sudah menjadi pengetahuan umum soal batu mustika merah delima yang misterius. Terutama terkenal dg kemistikan dan harganya yang milyaran. Entah nyata atau tidak, secara pribadi sampai saat ini saya belum pernah melihat barangnya. Hanya dengar ceritanya saja.

Dengan keantikannya itu sepertinya siapa saja pernah dengar dan membuat penasaran. Para tamu kiai itu membincangkan hal merah delima itu.

"Pak kiai, bagaimana menurut jenengan saoal merah delima, bukankah orang banyak yang ingin memilikinya kiai? Katanya bisa sakti, sehingga saya juga penasaran," kata seorang tamu itu

"O.... itu, merah delima itu gampang, semua orang bisa memiliki dan sudah punya semua," jelas kiai dg santai.

"Masa' kiai?!" penasaran seorang tamu yang lain

"Iya, itu udah ada pada kalian. Bahkan lebih hebat dari yang biasa didengar keantikannya. Coba dengarkan, DELIMA: Qulhuwallahu aHAD, Allahus shoMAD, Lam yaLID wa lamyuuLAD, Walam yakul lahu kufuan aHAD," jelas kiai sambil memberi isyarat jari jemarinya dari ke 1 sampai ke 5 saat penekanan bunyi akhir kalimat yang memang diakhiri bunyi huruf D.

Pak kiai melambangkan surat Al-Ikhlash itu dg DE-LIMA (diplesetkan dari nama mustika merah delima). Artinya pada surat al-Ikhlash itu diakhiri bunyi huruf DAL (D) yang jumlahnya memang 5 kali.

Mendengarnya para tamu itu hanya bisa manggut-manggut sambil tersenyum kecil. Hi.......

Ini memang benar, surat Al-Ikhlash adalah bagian dari Al-Qur'an, kumpulan firman Allah yang suci dan mulya. Apa yang lebih mulya atau hebat segala makhluq Allah atau segala ilmu dari pada Al-Qur'an firman-firman Allah itu?! Bahkan secara khusus surat ini bernilai sepertiga Al-Qur'an. Subhanallah.

Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Berkumpullah kalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur`an,” maka berkumpullah orang yang berkumpul, kemudian Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa asllam keluar dan membaca قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ (surat al Ikhlash, Red), kemudian beliau masuk (kembali). Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain: “Sesungguhnya aku menganggap hal ini kabar (yang datang) dari langit, maka itulah pula yang membuat beliau masuk (kembali),” lalu Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dan bersabda: “Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian akan membacakan sepertiga al Qur`an. Ketahuilah, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur`an”. (HR. Muslim)

Hadits Uqbah bin ‘Amir al Juhani Radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Tatkala aku menuntun kendaraan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata: “Wahai Uqbah, katakan," aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata (lagi): “Wahai Uqbah, katakan," aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku bertanya: “Apa yang aku katakan?”

Beliau pun bersabda: “Katakan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ”, lalu beliau membacanya sampai selesai. Kemudian beliau membaca قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّالفَلَقِ, aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ, aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berlindung (dari segala keburukan) seperti orang orang yang berlindung dengannya (tiga surat) tersebut”. (HR. Nasa'i)

Hadits A’isyah Radhiyallahu 'anha, beliau berkata: Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin merebahkan tubuhnya (tidur) di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul A’udzu bi Rabbin Naas” dan “Qul A’udzu bi Rabbil Falaq,” kemudian (setelah itu) beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali. (HR. Bukhori)

Hadits Aisyah Radhiyallahu 'anha, beliau berkata: "Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan ketika orang itu mengimami yang lainnya di dalam shalatnya, ia membaca, dan mengakhiri (bacaannya) dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, maka tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, mengapa ia berbuat demikian?” Lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini,” lalu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Beritahu dia, sesungguhnya Allah pun mencintainya”. (HR. Bukhori)
---------

Sahabat2ku, semoga kita dipastikan oleh Allah sbg orang yang sukses dg mencintai ayat-ayatnya. Amin.

Rabu, November 11, 2015

Kemiskinan Belum Tentu Miskin


Ada orang miskin. Penghasilannya cuma pas-pasan buat makan kaluarganya sehari-hari. Harta cuma rumah kecil separuh tembok separuh bambu. Harta lainnya 1 sepeda motor tahun 70an buat transportasi kerja sebagai buruh ke sawah-sawah. Pagi berangkat sore datang. Malam hari tidak ada kerja lagi selain khusus ful buat istirahat di rumah dg anak istri sambil beribadah bangun malam. Sebab pagi-pagi sekali harus siap pergi kerja keras lagi. Ibadah magrib dan subuh selalu bisa berjamaah di Masjid karena memang sudah nyantai di rumah. Begitu kehidupannya tiap hari. Adem Ayem. Meski tak pernah punya uang lebih untuk beli motor mewah.

Yang ini orang kaya raya. Disebut kaya karena punya perusahaan besar bercabang di mana-mn. Dia seorang bos besar, karyawannya banyak. Rumahnya megah mobilnya mewah. Kalau sekedar sepeda motor tak level. Namun perusahaannya dananya pinjam ke bank tiap bulannya harus bayar bunga yang besar. Rumahnya juga gitu belum lunas ke bank. Apalagi mobilnya, mobil yang lama kreditan belum lunas, ambil mobil mewah baru kreditan juga.

Jadinya orang ini jarang tidur. Malam tak bisa tidur. Jarang nyantai dg keluarganya. Tiap waktunya sibuk ngatur uang buat bayar ini bayar itu. Tanggungan ini tanggungan itu. Kumpul ini kumpul itu. Makan tak sempat di rumah sehingga selalu makan di restoran. Tidur juga jarang di rumah sehingga sering tidur di hotel. Begitu seterusnya hidupnya. Sampai-sampai terserang penyakit diabet. Makan ini itu harus dijaga.

Belum lagi anak udah jarang diurus bagaimana pendidikannya. Sehingga anaknya terjerat kasus narkoba. Istrinya juga gitu sering kesepian sehingga tak jarang cari hiburan di luar rumah. Apalagi anak perempuannya, seks bebas menjadi biasa.

Mana hidup yang lebih enak: Orang miskin yang hidupnya pas-pasan atau orang kaya yang bermobil mewah?

Jumat, November 06, 2015

Ibarat Mencari Rizki


Rizki itu bukan karena ilmu atau pinter. Sebab, kalau begitu maka ayam atau hewan2 lainnya akan mati duluan. Sebab, tidak ada ayam yang berilmu atau pinter sehingga bisa dapat rizki untuk makan. Kecuali ayam kampus. Hi....

Rizki itu ibarat bayangan, makin dikejar makin jauh. Namun tidak dikejar tetap ada dekat.

Atau rizki ibarat ajal. Ajal dikehendaki bagaimanapun jika bukan saatnya tiba tetap tidak akan didapat. Sebaliknya, kalau sudah saatnya ajal datang, di manapun bersembunyi tetap akan menghampiri.
---------
 

Sahabt2ku yang baik...
Kerja adalah kemestian cara mendapat rizki, tapi jangan sampai ngoyo/ngotot sehingga melupakan kewajiban yang lainnya.

Kerjalah dg santai, apa mampunya, sebisanya dan sebiasanya, sehingga hak-hak dan kewajiban lainnya tetap terpenuhi.

Justru kemestian kerja untuk mencapai rizki harus dibarengi dg kemestian-kemestian yang lainnya.
Bekerja adalah salah satu kemestian jalan mendapatkan rizki. Maka kalau hanya mengandalkan apalagi ngotot dg satu jalan mencari rizki itu akan menjadi ketimpangan yang menyebabkan kegagalan segagal-gagalnya.

Semoga kita selalu diberi hidayah oleh Allah dalam segala halnya. Amin.

Rabu, Juni 24, 2015

Pendidikan Salat Di Bulan Suci


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

الحمد لله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Mari kita selalu merawat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh jiwa raga serta lebih utama dari segalanya. Dalam situasi atau kondisi apa dan bagaimanapun kita.
Saudara-saudaraku, terlebih di bulan ini, bulan ramadlon, bulan spesial yang memiliki banyak keutamaan atau keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya.
Diantara keutamaan bulan ramadhon itu adalah bulan dibukanya pintu-pintu pahala kebaikan berupa ibadah, memperbanyak amalan ibadah dan kebaikan, sehingga bulan ini disebut bulan pendidikan atau pelatihan (Training Center). Kemudian, dari anjuran memperbanyak amalan-amalan tersebut dilipatgandakan pula pahalanya, sehingga disebut bulan penuh berkah.
Selain itu, keutamaan bulan ramadhon ini juga ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya tangan-tangan syetan, sehingga disebut bulan suci. Bulan pencucian diri dari segala kotoran diri atau dosa dengan media terutama amalan puasa. Yakni puasa secara fisikal menahan hawa nafsu perut di siang hari (nafsu dhohiri) sekaligus mengendalikan nafsu maknawi (nafsu bathini) sepanjang hari.
Salah satu media sebagai musabab istimewanya bulan Ramadhon itu selain puasa, memperbanyak zakat, memperbanyak sodaqah, perilaku baik, menjaga diri dari maksiat, adalah memperbanyak ibadah salat.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Dirahmati Allah
Tidak ada suatu bulan Rasulullah saw banyak melakukan dan menganjurkan salat sebagai ibadah sunnah melainkan bulan ramadlon saja, yakni berupa solat sunnah tarawih dan witir, selain peningkatan salat wajib dan sunnah rawatib.
Ini menggambarkan, bahwasanya selain karena bulan ini terdapat bonus-bonus spesial sebagai pahala ibadah, lebih dari itu agar kita terdidik untuk membiasakan diri melakukan dan menegakkan salat secara istiqamah. Sehingga di sini tersimpan sebuah harapan yang paling penting, bahwa berakhirnya bulan suci ini kita menjadi terbiasa menegakkan salat dan amalan-amalan ibadah dan kebaikan lainnya.
Yang tidak solat sebelum ramadlon, di bulan ramadlon ikut-ikutan salat jama’ah tarawih di Masjid, usainya ramadlon menjadi terbiasa gemar melakukan salat dan berjama’ah di Masjid. Yang sudah biasa melakukan salat sebelum ramadlon, di bulan ramadlon makin semangat ikut bersama berjama’ah tarawih di Masjid, setelah bulan ramadlon menjadi terbiasa makin giat menegakkan salat dan pergi ke Masjid.
Di sinilah sebetulnya salah satu inti yang terpenting dari momen ramadlon sebagai bulan penuh keistimewaan, bulan suci, bulan penuh berkah, dan bulan pendidikan itu, yakni sebuah harapan konsistensi atau keistiqamahan atau kelanjutan ibadah-ibadah serta amalan-amalan baik di bulan-bulan berikutnya.
Bayangkan saja, ketika tiba bulan puasa Masjid-masjid menjadi penuh dg para jama’ah bahkan sampai-sampai melebihi kapasitas ruangan Masjid, karena saat itu orang yg tidak salatpun atau tidak pernah salat di Masjidpun menjadi ikutan ibadah berombongan di Masjid, dari yang sepuh hingga anak-anak kecilnya dibawa ke Masjid, betapa indahnya hidup ini kalau kebiasaan sepenuh bulan ramadlon seperti itu berlanjut terus hingga bulan-bulan berikutnya, orang-orang tetap giat dan gemar melakukan salat berjama’ah di Masjid-masjid atau di musholla-musholla.
Namun, alangkah emannya, kenyataan yang terjadi, jangankan selesai penuh sepanjang hari di bulan romadlon, di pertengahan bulan ramadhon saja sudah hilang tinggal sepersedikitnya saja. Maka, kejadian kenyataan inilah yang perlu kita rubah.
Sehingga, bulan ramadlon bukanlah hanya sekedar bulan seremonial puasa dan buka bersama dengan meriah, dan juga bukan sekedar giatan-giatan salat tarawih dan tadarusan di Masjid-masjid, dan apalagi bukan sekedar sebagai momen mengais rizki di acara ta’jilan saja, lebih dari sekedar semua itu adalah dampak perubahan keistiqamahan dalam beribadah dan berbuat baik setelahnya. Dengan demikian, inilah sejatinya akan betul-betul terasa keistimewaannya bahwa bulan ramadlon adalah bulan suci dan penuh berkah.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Diridloi Allah
Betapa pentingnya ibadah salat, sampai-sampai di bulan khusus puasapun Allah menempatkannya secara spesial, demi melatih manusia agar terbiasa menegakkannya sepanjang masa.
Demikian itu, karena salat memiliki nilai-nilai spesial sebagai salah satu perintah Allah swt diantanya, salat adalah perintah awal sebelum ajaran lainnya diperintah oleh Allah yang terurai dalam rukun Islam sekaligus menjadi media ibadah yang menyambungkan diri kita selalu ingat kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta; dengan salat kita bisa berkomunikasi atau ingat kepada Allah secara langsung. Sebagaimana firman Allah swt:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya, Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS, Thaha: 14).
Di samping itu, salat adalah amalan yang akan dihisab awal kali di hari kiamat kelak sekaligus menjadi neraca penentu kondisi dan posisi seseorang di mata sesama manusia terlebih di sisi Allah swt. Sebagai mana Sabda Rasulullah saw: Dari Abu Hurairah, Beliau mendengar Rasulullah saw bersabda,
 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
Artinya, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” 
Selanjutnya, Salat dapat mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Sebagai mana firman Allah swt:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS, Al 'Ankabuut: 45)
Dan ini juga keistimewaan salat yang tidak kalah menariknya, yakni menjadi media manusia agar bisa hidup tenang, sukses, selamat, dan bahagia dunia akherat. Dengan bahasa lain, dengan salat kita terjauhkan dari kehidupan yang sempit, galau, dan kacau. Berarti sebaliknya, kalau tidak salat justru hidup kita kacau balau dunia dan neraka di akherat. Karena sama halnya kita jauh dari Allah yang Maha memiliki segalanya ini. Sebagaimana ayat-ayat berikut:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (mati).” Al-Baqarah ayat 45-46.
Pada surat Al-Ma’aarij: 19-23 Allah juga menjelaskan:
 إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا,  إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا,  وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا, إِلا الْمُصَلِّينَ, الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ,,,
Artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,…”.
Pada ayat yang lain Allah menegaskan:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِين فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ
Artinya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka saling bertanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian" (Al-Muddasstir: 38-47).
Pada ayat ini Allah menggambarkan bahwa awal kali pengakuan yang menyebabkan manusia disiksa di dalam api neraka adalah karena tidak melakukan salat.
 فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّين  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِم  سَاهُونَ ْ….
Artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS, Al-Ma’un: 4-7).
Dalam ayat yang lain,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Artinya, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (di dalamnya termasuk lalai mengingat Allah atau tidak salat), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Selain penegasan-penegasan dari firman Allah dan Hadist Rasul di atas, filosofi salat juga tercermin dalam untaian-untaian adzan yang dikomandankan tiap lima waktu.
Hayya ‘alas sholah….2X
Hayya ‘alal falah….2X
Di sini tersebut, “Hayya alas sholah” dulu, yang artinya mari kita salat. Lalu disusul “Hayya alal falah’, yang artinya mari kita menuju kemenangan atau keberuntungan. Ini maksudnya, salat adalah pintu manusia bisa hidup beruntung selamat bahagia dunia akherat. Kalau kita ingin selamat, bahagia, atau menang dalam menjalani arena kehidupan di dunia ini kita harus menegakkan salat. Tidak boleh tidak. Bukan kita dapat hidup tenang dahulu baru salat.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Dirahmati Allah
Telah jelas, kalau demikian pentingnya dan pengaruhnya salat dalam menentukan keselamatan dan kebahagiaan kita hidup di dunia sekaligus di akherat, masihkah kita bermalas-malas menegakkan salat, apalagi dengan sengaja meninggalkan salat!? Sudah jelas sekali penegasan ayat-ayat Allah dan Hadist-hadist Rasul-Nya bahwa tidak ada yang pantas bagi orang yang tidak salat melainkan siksaan yang pedih di dunia sekaligus di akherat. Na’udzubillahi min dzaalik.
Demikianlah beberapa keutamaan salat di bulan suci puasa ini, masih banyak keutamaan atau keistimewaan lainnya namun tidak mampu kita bahas pada kesempatan yang terbatas ini.
Akhirnya, kita selalu berharap dan memohon kepada Allah, agar selalu diberi keistiqamahan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya sekaligus menjauhi larang-larangan-Nya di bulan yang penuh berkah ini sampai sepanjang masa. Amin.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
باركالله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميع العليم.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 Jatikerto Kromengan Malang, Jum’at Legi , 24 06 2015 M

Senin, Januari 19, 2015

Maraknya yang Berdukun

Mobil Jeeb mewah terbaru warna kuning elegan parkir di depan kedai es degan durian saya. Orang separuh baya turun darinya, suami istri.

Sudah pasti, mau beli es degan. Tujuan lain tidak mungkin, sebab saya tidak punya teman atau berurusan dengan orang bermobil mewah.

Sambil minum es orang kaya itu bertanya, "Mas pean asalnya mana?" Saya jawab,"Lumajang Tempeh."

"Lumajang Tempeh?!" Tampak seakan ada sesuatu terkait tempat asal saya di benaknya.

"Banyak orang yang memberi tahu saya, katanya di Tempeh tempatnya orang ampuh. Gimana mas, bisa mencarikan saya orang ampuh itu? Saya belum sebulan ini kehilangan besar. Saya baru buka showroom mobil belum seminggu sudah kerampokan 2 unit mobil dagangan." Lanjutnya dengan jelas.

Dari awal bicaranya saya langsung paham, ini soal dukun. Maksudnya, dia meminta saya untuk mencarikan dukun yang mampu memberi petunjuk keberadaan mobilnya.

Seakan memaksa, dia langsung menyodorkan selembar kertas, tertulis namanya dan nomor plat kedua mobilnya yang hilang: Toyota Rush silver bernopol N 818 DE dan Toyota Avanza putih bernopol N857 DV.

"Saya buat sayembara mas, gak usah menemukan mobil saya langsung, menunjukkan saja dan benar-benar ada, saya kasih uang 25 juta," lanjutnya.

Mengetahui maksud orang kaya ini, saya langsung berpikir, di zaman ini, orang sekaya itu jika ditimpa suatu musibah yang membuatnya tidak berdaya, ternyata ujung-ujungnya lari ke dukun juga.

Kenapa tidak diurus kepolisi sampai tuntas? Pikir saya.

Jawabannya, awal kali langsung dipolisikan bahkan sampai ditayangkan di salah satu stasion tv dan koran nasional, tapi sampai saat itu gak ada jelasnya. Dari gelagatnya disinggung soal polisi tampak pesimis, seakan tak percaya lagi kalau polisi dapat menemukan. Makanya dia lebih semangat mencari alternatif dukun dari pada polisi.

Toh, percaya kepada polisi, ujung-ujungnya kehilangan 2 kali. Banyak biayanya. Bayar ini dan itu. Makin banyak bayarnya, makin banyak peluang ketemu. Akhirnya pakai alternatif saja. Arah bicaranya.

Anggapannya saya kira ada betulnya. Dalam kasus yang sama, saya punya tetangga mobilnya hilang. Dia pengusaha jasa rental mobil rumahan. Mobilnya disewa tak kembali. Dibawa lari penyewa.

Karena dia seorang guru pegawai negri, tentunya dia menyikapi kehilangan melalui jalur semestinya, lapor polisi. Diminta sembarang kalir syarat dan pembiayaan tentunya dituruti saja.

Selama hampir setahun mobilnya baru ketemu oleh dinas kepolisian Banyuangi di pelabuhan Moncar mau nyebrang ke Bali.

Jenis mobilnya Xenia tahun lama. Plat nomornya sudah dipalsu. Kalau dijual seharga kurang lebih 80an jutaan. Setelah dihitung-hitung ngurus ke kepolisian selama hampir setahun baru ketemu, hampir 50 jutaan biayanya. Separuh harga mobilnya kalau dijual. Jadi toh tak seextrim anggapan orang berjeeb itu, kehilangan 2 kali, paling tidak setengahnya kembali dari pada tidak kembali sama sekali.

Kembali ke soal dukun. Bukan hanya satu kali ini gara-gara identitas Lumajang saya dikorelasikan dengan dukun sama orang, banyak kali.

Pernah sebelumnya, seseorang bertamu. Mengetahui saya dari Lumajang spontan dia meminta kepada saya mencarikan dukun yang bisa nyantet menantunya sekaligus mati. Konon, istrinya selingkuh dengan menantu tirinya itu karena hasrat hartanya. Maklum istrinya yang kaya raya.

Ini sangat seru: Dia ambisi sekali membunuh menantunya itu. Membunuh dengan berhadapan dia takut, kalah mati sendiri atau menang dihukum. Saya merasa geli mendengarnya, jangan-jangan dia sendiri yang ambisi dapat hartanya dan perselingkuhan itu fitnah. Apalagi menantunya itu memang disayang seluruh keluarganya karena dia seorang santri yang hafidz Qur'an. Sudah lebih cenderung dia orang baik.

Lucunya lagi, sampai-sampai dia yakin sekali bahwa nyantet orang demikian halal. Ditambah curhat kepada seorang ustdz, ustadznya juga menghalalkan. Saya habis pikir, kok ada ustadz seperti itu, dan padahal orang ini mantan santri di pesantren modern yang terkenal. Kasus-kasus dukun santet semacam ini lebih dari 1 kali datang ke saya.

Lain lagi dengan kasus ini, mengadu ke saya lantaran ditinggal istrinya bertahun-tahun, tak mau kembali. Dia ngrumat anaknya yang masih balita sendirian. Ingin memakai dukun agar istrinya kembali. Kasus semacam ini lebih dari 1 kali.

Terakhir baru-baru ini, ada seorang tetangga ingin menyantet kakak kandungnya sendiri gara-gara kakaknya itu mengusir istrinya dari rumahnya. Dan banyak kasus-kasus lainnya yang melibatkan dukun.

Semua itu bagaimanapun alasannya, saya tidak mau ikut campur. Berapapun imbalannya saya juga tidak mau dimintai pertolongan. Saya tidak pernah berurusan dengan para dukun di Lumajang.

Terkhusus bagi bapak yang bermobil jeeb dan siapapun yang hendak berdukun, tak usahlah bingung, jangan sampai hanya gara-gara kehilangan harta, kepribadian dan iman taruhannya. Hilang harta dapat dicari lagi, namun sekali hilang iman kesengsaraannya hingga mati.

Kitapun harus berintropeksi diri, kenapa kita kehilangan? Jangan-jangan kita memang orang sukses tapi tak bersosial, tak pernah beramal kepada yang lain, sehingga ada oknum yang membenci kita. Atau, ada harta kita yang tidak bersih sehingga harus ditebus dengan sebuah musibah. Kalau memang demikian, maka satu-satunya solusi adalah banyak-banyak istigfar, perbaiki diri, dan sucikan harta.

Atau, kalau memang kita sudah baik-baik dengan orang lain dan gemar bershodaqah serta harta kita sudah bersih masih saja ada orang yang benci dan dengki kepada kita berarti ini adalah  ujian bagi kita. Solusinya, sabar dan lebih gemarkan lagi ibadah kepada Allah dan perilaku baik dengan sesama.

Segala sesuatunya, kalau sudah dihadapi dengan solusi-solusi yang pas itu, akan berakhir juga. Bahkan akhirannya adalah keselamatan dan kemenangan. Solusi pergi ke dukun malah tambah bingung, keimanan akan terjual.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS, Al-Baqarah: 102)

Di zaman para Nabi soal dukun memang sudah ada. Saat itu lebih dikenal dengan istilah sihir. Fungsinya sama, untuk santet, memisahkan orang, popularitas, kejayaan, dan sebagainya. Bahkan Nabi saw pernah disantet. Pelakunya adalah orang-orang kafir yang memusuhi orang-orang Muslim, atau orang-orang muslim yang munafik, sehingga siapa yang menjadi penyihir atau dukun atau minta pertolongan atau bekerja sama dengan para dukun itu dihukumi kafir. Di akherat mendapat ancaman adzab yang berkepanjangan.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS, Al-Baqarah: 102)

Di zaman ini, perdukunan menjadi topik ngetren yang dihalal-halalkan sebagai tempat pelarian hidup aman dan nyaman. Dalam segala hal apapun, kejayaan, kekayaan, popularitas, kecantikan, dan sebagainya. Bahkan perdukunan menjadi ajang bisnis yang menggiurkan. Sehingga tidak heran banyak oknum yang tiba-tiba berprofesi menjadi dukun. Ustadz atau kiai juga banyak yang nyambi jadi dukun.

Namun, di sisi lain dari kemarakan perdukunan, saya heran, ada dukun artis nusantara marak dikabarkan di media massa, Ki Joko Bodo tobat jadi dukun, diganti dengan suka Haji dan umroh (http://www.tempo.co/read/news/2014/06/21/219586948/Perjalanan-Spiritual-ke-Mekah-Ki-Joko-Bodo-Tobat).

Ini kasus lucu: marak orang ingin menjadi dukun dan pergi ke dukun, ada juga dukun yang ingin menjadi orang normal biasa. Meski juga makin banyak dukun cabulnya.

Ada-ada saja hidup ini.

Jatikerto Malang, 05 092014 M

Impian Kita di Bukit Welas Asih


Oleh:Ali Sabilullah, S.Fil.I

Manusia hidup pasti punya impian. Terlepas apapun dan bagaimanapun bentuk dan jalannya. Yang jelas punya impian yang diinginkan. Akhirnya juga berbeda, ada yang sukses ada yang gagal.

Tanpa impian, manusia akan mandeg atau mati. Meski secara dhohir masih hidup, hidupnya dianggap matinya. Bahasa anak santri Bilang, Wujuduhu ka 'adamihi.

Impian dibilang juga dengan cita-cita. Keinginan yang harus dicapai. Kiai saya di pesantren menyebutnya mimpi-mimpi.

Impian atau cita-cita, kalau boleh saya  bilang adalah keinginan masa panjang, gaerah masa depan, besar, dan prosesnya juga besar dan panjang. Tapi tidak semua keinginan itu pantas disebut cita-cita.

Umpama saya bilang, saya bercita-cita pergi ke rumah kamu nanti sore. Maka ini bahasanya tidak pantas. Yang pas ini, saya ingin pergi ke rumahmu nanti sore. Atau saya berkata begini, cita-cita saya pada umur 40an harus sudah punya usaha travel dan rental mobil berjumlah lebih dari 25 unit mobil. Ini pantas. Sama juga begini, keinginan saya pada umur 40an harus sudah punya usaha travel.

Jadi cita-cita itu adalah keinginan yang besar dan masa depan. Sedangkan keinginan masa pendek, sekarang atau hari ini adalah kurang pas untuk dikatakan cita-cita atau impian.

Iwan Fals pada lirik lagunya bilang, keinginan adalah sumber penderitaan. Ini memang betul. Tapi tidak semua keinginan seperti itu. Karena keinginan bahasa lain dari nafsu. Sedangkan nafsu, tidak semuanya buruk. Bukankah Tuhan meridloi nafsu yang muthmainnah?

Keinginan yang membawa derita adalah keringinan yang tak terkontrol. Nafsu yang tak terkendali. Hasrat yang lepas selalu dituruti. Hasrat angkara. Nafsu lauwwamah. Nafsu hayawaniyah. Nafsu syaithoniyah. Shahwat. Maka pantas dikata, mengumbar nafsunya, atau diperbudak oleh hawa nafsunya.

Banyak teori, prinsip, atau filosofi menenai impian ini. Diantaranya sering didengar bahwa cita-cita harus fokus. Biar cepat tercapai, katanya. Ibarat sebuah perjalanan, kalau fokus satu arah tujuan akan cepat sampai. Tapi kalau banyak tujuan, sedikit mampir dan mampir, maka meski tetap sampai ke tujuan utama, setidaknya sangat lambat. Bisa jadi menyebabkan gagal.

Juga ada yang bilang, bercita-citalah setinggi langit. Filosofinya, bercita-cita setinggi mungkin, bukan tanggung, biar andai ada kegagalan jatuhnya masih tinggi. Anggaplah umpama berambisi menaiki gunung paling tinggi, sehingga kalau ada kegagalan atau tidak sampai paling tidak sudah ada di atas ketinggian, atau jatuhnya di atas bukit. Masih tinggi. Ambisinya beli mobil mewah, gagalnya setidaknya masih punya mobil meski bukan yang mewah.

Teori, prinsip, dan filosofi, semua itu hanya sebagai pemeta dan sugesti yang tentunya bukan satu-satunya penentu keberhasilan sebuah cita-cita.

Juga ada sebuah prinsip, manusia yang berusaha dan bercita cita sedangkan Tuhan yang menentukan. Karena Tuhan memang Pencipta dan Pengatur kehidupan ini. Apa mau-Nya tidak ada yang melarang.

Oleh karena itu ada istilah doa, semoga bersama taufik, inayah, dan hidayah Allah. Taufiq artinya, kesetujuan kehendakTuhan. Kalau kita memiliki keinginan dan bersamaan juga dg kehendak Tuhan maka akan jadi. Tapi sebaliknya, kalau keinginan kita tidak ditaufiqi atau Tuhan tidak menghendaki maka tidak jadi.

Inayah adalah anugrah-Nya atau pemberian. Lekas atau cepat dikasih. Umpama kita disetujui oleh Tuhan di dalam keinginan pergi ke Jakarta mencari pekerjaan, tp tidak dikasih (diinayahi) pekerjaannya, maka kita cuma sampai ke Jakarta saja, pekerjaannya belum ada innayah.

Hidayah, petunjuk kepada kebenaran, kelurusan, keselamatan. Banyak orang kaya raya, keinginannya bersama dg taufiq dan inayah Tuhan, tapi tidak dihidayahi, maka kekayaannya akan mencelakakannya. Misalnya terlena dg kemaksiatan.

Dari itu keinginan adanya atau tercapainya harus dg hidayah, inayah, dan hidayah Tuhan. Di situ cita-cita yang betul-betul sukses.

Dari itu keinginan yang tinggi atau cita-cita setinggi langit bukanlah sekedar wacana puitis atau mungkin disebut lebai. Tapi ini sebuah kemestian, sugesti, dan jalan kalau memang ingin jadi manusia besar. Manusia sukses.

Secara pribadi saya punya keringinaan itu, cita-cita itu. Yang besar dan tidak tanggung-tanggung.

Ini impian saya: saya sedang merintis Pendidikan Al-Qur'an dan Bina Sosial Asih Bersama Bukit Qur'an di Sumber Tempur Gunung Kawi Malang. Di situ ada bukit namanya bukit Mbah Malang. Disebut bukit Mbah Malang karena puncak bukit itu bisa dilihat dari banyak sisi sejagat Malang. Paling puncak ada semacam petilasan yang didatangi orang dari mana-mana untuk beritual entah apa maksudnya.

Muridnya sekarang masih kurang lebih 30an anak. Di antara mereka ada yang yatim piatu dan tidak sedikit yang ditinggal merantau bapak ibunya.

Sarana dan sistem pendidikan mereka masih berbentuk sederhana sekali. Bertempat di rumah kosong yang dikontrak. Tidak ada tempat wudlu. Untuk ngaji harus punya wudlu dari rumah masing-masing. Hampir saben hari sebelum ngaji anak-anak harus menyapu kotoran-kotoran tikus, karena pintunya lubang-lubang dimasuki tikus kebun kopi. Sangat sederhana sekali.

Tapi kesederhanaan itu memiliki keindahan tersendiri bagi kami, sekaligus sebagai sugesti, "Ini betul-betul mulai dari nol. Kebesaran hanya tercipta dari kekecilan". Dengan keyakinan begitu menjadi kenikmatan tersediri. Suatu saat biar ada kisah tersendiri.

Saya masih sendirian mengelolanya dari awal, dibarengi seorang dermawan berhati mutiara yang bertekat sebagai tonggak utama pembangunannya. Kami hanya berdua berbagi tugas. Sudah setahun lebih berjalan. Mau ngajak teman, saya kawatir pikirannya tidak sama, karena tidak ada bayaran bahkan yang ada hanya perjuangan dan kembang kempis.

Di sisi lain, jarak antara rumah saya dan Bukit Qur'an tersebut kurang lebih 25 km dg jalan naik-naik dan perkebunan. Banyak jarak jalan yang jauh dari perumahan. Sepi. Gelap. Saben hari saya wira-wiri itu. PP 1.5 liter lebih bensin. Jam 5 sore berangkat, jam 8-9 malam pulang. Ini sudah setahun lebih, sejak pertengahan 2013. Amat penuh perjuangan.

Meski demikian adanya, kami tak kecil hati, kami bercita, suatu saat kami harus bisa membawa anak-anak ke atas bukit Mbah Malang: bukit Mbah Malang harus dipenuhi gedung-gedung pendidikan Al-Qur'an dan Bina Sosial Asih Bersama. Bukit Qur'an. Bukit Welas Asih.

Gedung-gedungnya berdesain kombinasi Timur-Barat. Megah. Dikelilingi pohon-pohon bidara yang rindang. Penuh temaran lampu yang terang menyala. Jalan-jalannya berkulit mulus memutari punggung-punggung bukit. Di situ ada kebun-kebun: kebun Qur'an, kebun bahasa, kebun baca, kebun seni, dan paling puncak saya rubah menjadi Petilasan Riyadlah Pintu Langit. Anak-anak didik dan orang-orang bebas memasukinya dengan hati yang sangat jembar.

Selain sebagai tempat menimba ilmu, menempa diri, dan bina sosial, di situ juga menjadi negri kecil  yang menakjubkan nan indah sebagai bagian kebesaran Tuhan. Orang-orang berdatangan dari mana-mana dg niat apa saja untuk memperbaiki diri. Di bukit itu tersedia berbagai upaya terpenuhi. Dg kebesaran dan welas asih Tuhan.

Bimillah. Amin ya robbal 'alamin.

Kalisat Sumber Tempur Gunung KawiMalang, 01 01 2015 M