Senin, Januari 19, 2015

Maraknya yang Berdukun

Mobil Jeeb mewah terbaru warna kuning elegan parkir di depan kedai es degan durian saya. Orang separuh baya turun darinya, suami istri.

Sudah pasti, mau beli es degan. Tujuan lain tidak mungkin, sebab saya tidak punya teman atau berurusan dengan orang bermobil mewah.

Sambil minum es orang kaya itu bertanya, "Mas pean asalnya mana?" Saya jawab,"Lumajang Tempeh."

"Lumajang Tempeh?!" Tampak seakan ada sesuatu terkait tempat asal saya di benaknya.

"Banyak orang yang memberi tahu saya, katanya di Tempeh tempatnya orang ampuh. Gimana mas, bisa mencarikan saya orang ampuh itu? Saya belum sebulan ini kehilangan besar. Saya baru buka showroom mobil belum seminggu sudah kerampokan 2 unit mobil dagangan." Lanjutnya dengan jelas.

Dari awal bicaranya saya langsung paham, ini soal dukun. Maksudnya, dia meminta saya untuk mencarikan dukun yang mampu memberi petunjuk keberadaan mobilnya.

Seakan memaksa, dia langsung menyodorkan selembar kertas, tertulis namanya dan nomor plat kedua mobilnya yang hilang: Toyota Rush silver bernopol N 818 DE dan Toyota Avanza putih bernopol N857 DV.

"Saya buat sayembara mas, gak usah menemukan mobil saya langsung, menunjukkan saja dan benar-benar ada, saya kasih uang 25 juta," lanjutnya.

Mengetahui maksud orang kaya ini, saya langsung berpikir, di zaman ini, orang sekaya itu jika ditimpa suatu musibah yang membuatnya tidak berdaya, ternyata ujung-ujungnya lari ke dukun juga.

Kenapa tidak diurus kepolisi sampai tuntas? Pikir saya.

Jawabannya, awal kali langsung dipolisikan bahkan sampai ditayangkan di salah satu stasion tv dan koran nasional, tapi sampai saat itu gak ada jelasnya. Dari gelagatnya disinggung soal polisi tampak pesimis, seakan tak percaya lagi kalau polisi dapat menemukan. Makanya dia lebih semangat mencari alternatif dukun dari pada polisi.

Toh, percaya kepada polisi, ujung-ujungnya kehilangan 2 kali. Banyak biayanya. Bayar ini dan itu. Makin banyak bayarnya, makin banyak peluang ketemu. Akhirnya pakai alternatif saja. Arah bicaranya.

Anggapannya saya kira ada betulnya. Dalam kasus yang sama, saya punya tetangga mobilnya hilang. Dia pengusaha jasa rental mobil rumahan. Mobilnya disewa tak kembali. Dibawa lari penyewa.

Karena dia seorang guru pegawai negri, tentunya dia menyikapi kehilangan melalui jalur semestinya, lapor polisi. Diminta sembarang kalir syarat dan pembiayaan tentunya dituruti saja.

Selama hampir setahun mobilnya baru ketemu oleh dinas kepolisian Banyuangi di pelabuhan Moncar mau nyebrang ke Bali.

Jenis mobilnya Xenia tahun lama. Plat nomornya sudah dipalsu. Kalau dijual seharga kurang lebih 80an jutaan. Setelah dihitung-hitung ngurus ke kepolisian selama hampir setahun baru ketemu, hampir 50 jutaan biayanya. Separuh harga mobilnya kalau dijual. Jadi toh tak seextrim anggapan orang berjeeb itu, kehilangan 2 kali, paling tidak setengahnya kembali dari pada tidak kembali sama sekali.

Kembali ke soal dukun. Bukan hanya satu kali ini gara-gara identitas Lumajang saya dikorelasikan dengan dukun sama orang, banyak kali.

Pernah sebelumnya, seseorang bertamu. Mengetahui saya dari Lumajang spontan dia meminta kepada saya mencarikan dukun yang bisa nyantet menantunya sekaligus mati. Konon, istrinya selingkuh dengan menantu tirinya itu karena hasrat hartanya. Maklum istrinya yang kaya raya.

Ini sangat seru: Dia ambisi sekali membunuh menantunya itu. Membunuh dengan berhadapan dia takut, kalah mati sendiri atau menang dihukum. Saya merasa geli mendengarnya, jangan-jangan dia sendiri yang ambisi dapat hartanya dan perselingkuhan itu fitnah. Apalagi menantunya itu memang disayang seluruh keluarganya karena dia seorang santri yang hafidz Qur'an. Sudah lebih cenderung dia orang baik.

Lucunya lagi, sampai-sampai dia yakin sekali bahwa nyantet orang demikian halal. Ditambah curhat kepada seorang ustdz, ustadznya juga menghalalkan. Saya habis pikir, kok ada ustadz seperti itu, dan padahal orang ini mantan santri di pesantren modern yang terkenal. Kasus-kasus dukun santet semacam ini lebih dari 1 kali datang ke saya.

Lain lagi dengan kasus ini, mengadu ke saya lantaran ditinggal istrinya bertahun-tahun, tak mau kembali. Dia ngrumat anaknya yang masih balita sendirian. Ingin memakai dukun agar istrinya kembali. Kasus semacam ini lebih dari 1 kali.

Terakhir baru-baru ini, ada seorang tetangga ingin menyantet kakak kandungnya sendiri gara-gara kakaknya itu mengusir istrinya dari rumahnya. Dan banyak kasus-kasus lainnya yang melibatkan dukun.

Semua itu bagaimanapun alasannya, saya tidak mau ikut campur. Berapapun imbalannya saya juga tidak mau dimintai pertolongan. Saya tidak pernah berurusan dengan para dukun di Lumajang.

Terkhusus bagi bapak yang bermobil jeeb dan siapapun yang hendak berdukun, tak usahlah bingung, jangan sampai hanya gara-gara kehilangan harta, kepribadian dan iman taruhannya. Hilang harta dapat dicari lagi, namun sekali hilang iman kesengsaraannya hingga mati.

Kitapun harus berintropeksi diri, kenapa kita kehilangan? Jangan-jangan kita memang orang sukses tapi tak bersosial, tak pernah beramal kepada yang lain, sehingga ada oknum yang membenci kita. Atau, ada harta kita yang tidak bersih sehingga harus ditebus dengan sebuah musibah. Kalau memang demikian, maka satu-satunya solusi adalah banyak-banyak istigfar, perbaiki diri, dan sucikan harta.

Atau, kalau memang kita sudah baik-baik dengan orang lain dan gemar bershodaqah serta harta kita sudah bersih masih saja ada orang yang benci dan dengki kepada kita berarti ini adalah  ujian bagi kita. Solusinya, sabar dan lebih gemarkan lagi ibadah kepada Allah dan perilaku baik dengan sesama.

Segala sesuatunya, kalau sudah dihadapi dengan solusi-solusi yang pas itu, akan berakhir juga. Bahkan akhirannya adalah keselamatan dan kemenangan. Solusi pergi ke dukun malah tambah bingung, keimanan akan terjual.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS, Al-Baqarah: 102)

Di zaman para Nabi soal dukun memang sudah ada. Saat itu lebih dikenal dengan istilah sihir. Fungsinya sama, untuk santet, memisahkan orang, popularitas, kejayaan, dan sebagainya. Bahkan Nabi saw pernah disantet. Pelakunya adalah orang-orang kafir yang memusuhi orang-orang Muslim, atau orang-orang muslim yang munafik, sehingga siapa yang menjadi penyihir atau dukun atau minta pertolongan atau bekerja sama dengan para dukun itu dihukumi kafir. Di akherat mendapat ancaman adzab yang berkepanjangan.

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS, Al-Baqarah: 102)

Di zaman ini, perdukunan menjadi topik ngetren yang dihalal-halalkan sebagai tempat pelarian hidup aman dan nyaman. Dalam segala hal apapun, kejayaan, kekayaan, popularitas, kecantikan, dan sebagainya. Bahkan perdukunan menjadi ajang bisnis yang menggiurkan. Sehingga tidak heran banyak oknum yang tiba-tiba berprofesi menjadi dukun. Ustadz atau kiai juga banyak yang nyambi jadi dukun.

Namun, di sisi lain dari kemarakan perdukunan, saya heran, ada dukun artis nusantara marak dikabarkan di media massa, Ki Joko Bodo tobat jadi dukun, diganti dengan suka Haji dan umroh (http://www.tempo.co/read/news/2014/06/21/219586948/Perjalanan-Spiritual-ke-Mekah-Ki-Joko-Bodo-Tobat).

Ini kasus lucu: marak orang ingin menjadi dukun dan pergi ke dukun, ada juga dukun yang ingin menjadi orang normal biasa. Meski juga makin banyak dukun cabulnya.

Ada-ada saja hidup ini.

Jatikerto Malang, 05 092014 M

1 komentar:

  1. memang masyarakat di negara kita masih terlalu percaya pada hal-hal mistis. padahal, kunci sukses kan sebenarnya simpel. usaha, doa, dan tawakal.

    BalasHapus