Senin, Januari 19, 2015

Selametan Untuk Keselamatan



Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

 Kebiasaan ini sejak saya balita sudah saya saksikan dilakukan oleh bapak emak saya. Dan saya tahu, bapak emak saya melakukannya turun temurun dari sesepuh-sesepuh.

Saya lihat, bukan hanya keluarga saya tapi tetangga-tetangga saya, keluarga teman saya, dan saya tidak pernah melihat satu keluargapun yang tidak melakukannya. Semua orang di desa yang pernah saya tahu melakukannya.

Kebiasaan itu mereka bilang selametan. Bentuknya banyak macam. Yang pasti biasa saya lihat selametan pada seminggu sekali, saben hari Jum'at. Namanya selametan buat saudara atau sesepuh-sesepuh yang sudah meninggal.

Lebih lama dari itu rutinitasnya adalah selametan kelahiran. Biasanya berdasarkan neptu hari. Setiap hari neptu kelahiran saya emak selalu selametan. Dan masih banyak lagi selametan lainnya baik secara rutinitas maupun pada kasus-kasus tertentu.

Caranya juga bisa sederhana juga bisa besar-besaran. Tapi kalau dilakukan sebagai rutinitas biasanya sederhana sekali. Biasanya sebatas beberapa piring nasi lengkap dengan lauk dan minuman kopi.

Caranya, nasi lengkap itu ditaruh di atas meja lalu diniatkan dan didoakan. Niatnya mohon keselamatan pada Allah disertai dengan tawasshulan fatihah kepada Rasul, sahabat, para wali, leluhur, keluarga diri yang dihajatkan, lalu ditambah bacaan ayat-ayat pendek bahkan terkadang Yasin. Setelah ritual niat dan doa itu lalu nasi lengkap itu dibagikan ke tetangga-tetangga sebagai shodaqah, sambil diiringi memohon bantuan doa hajatnya kepada yang diberi itu.

Kalau selametan kelahiran saya sewaktu mermberi masakan nasi itu emak saya biasanya sambil bilang, "Pak/bu ini selametan kelahiran putra saya, mohon bantuan doanya agat selamat tercapai segala hajat". Yang diberi sekedar menjawab spontan, "Amin", gitu saja. Cara demikian diyakini sudah sah sebagai doa, tidak perlu lama-lama mengangkat tangan lalu membaca doa seperti saat tahlilan.

Entah, kebiasaan seperti ini sumber awalnya saya tidak tahu. Mungkin ini tradisi di kampung saya saja, atau bahkan mungkin di banyak tempat juga ada tradisi seperti itu meski dengan cara-cara yang berbeda. Saya tidak tahu itu.

Saya tahunya cuma di lingkungan sekitar saya, terlebih tradisi di dalam keluarga saya sendiri. Menariknya, ini berlanjut hingga kini. Bahkan saya yang hidup tidak lagi kumpul satu rumah dengan bapak dan emak, Beliau masih melakukan selametan tiap kelahiran saya itu. Saya tidak nyangka sampai sejauh itu.

Sehingga saya berpikir, ini pasti ada nilai yang tinggi, yang diyakini, sebuah sugesti di hati. Tidak mungkin kalau hanya sekedar tradisi kosong sampai sejauh itu dan sampai sekarang orang tua saya melakukannya.

Dari itu saya amati dan saya gali. Ternyata meski caranya mungkin tradisional tapi ini adalah semacam spirit yang kuat dan justru ajaran agama. Yakni ajaran shodaqah, silaturrohim, dan saling mendoakan.

Shodaqah, di sini ada spirit dapat menghapus dosa, keberkahan, dan tadfa'ul bala'. Silaturrohim, di sini ada spirit memperpanjang umur dan memperluas rizqi. Sambung doa, di sini ada spirit hanya doa dapat merubah taqdir, doa adalah inti ibadah, dan doa adalah senjata orang-orang Muslim. Bahkan doa termasuk amalan yang dapat dibawa sampai mati.

Dari sekian spirit relijius itu, entah dengan cara bagaimana para sesepuh dulu menemukannya dan menentukannya sebagai tradisi turun temurun itu, lalu mereka membangunnya menjadi sebuah tradisi relijius dengan caranya. Mengingat zaman dulu penuh kesederhanaan dan keterbatasan. Saya yakin saja, mereka bekerja dengan lelaku pencarian yang tidak biasa.

Akhirnya, saya menjadi yakin sekali, sejatinya ini ruh religius yang diamalkan dengan kearifan lokal tradisi kemanusiaan, dan harus saya lestarikan. Saya tidak urus, apa kata orang yang bersebrangan, syirik atau bid'ah, dan klaim lainnya. Bagaimanapun mereka mencak-mencak mengklaim, akan tetap saya lestarikan. Paling tidak untuk keluarga saya dan anak cucu saya. Selebihnya, tawakkal kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Bijaksana.

Yamaha Center Asyik Tempeh Lumajang, 02 01 2015 M

2 komentar:

  1. di kampung saya juga masih sering mengadakan selametan.. sama seperti yang mas ceritakan.. mulai dari kelahiran pun di adakan acara selametan..

    BalasHapus
  2. hi,, ya mas Bli. Daerah saudara dmn? smoga tercapai segala hajat. amin...

    BalasHapus