Rabu, Juni 24, 2015

Pendidikan Salat Di Bulan Suci


Oleh: Ali Sabilullah, S.Fil.I

Khutbah Pertama

الحمد لله الذى خلق السماوات والأرض وجعل الظلمات والنور ثمّ الذين كفروا بربهم يعدلون. أشهد ان لا اله الاالله وحده لاشريك له وأشهد ان محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمدٍ وعلى آله وصحبه أجمعين، أمّا بعد:
فيا عبادالله, أوصيكم و إياي نفسى بتقوى الله. فقد فاز المتقون وخاب الطاغون. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Para Jama’ah salat Jum’at yang dicintai Allah
Mari kita selalu merawat dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt dengan sepenuh jiwa raga serta lebih utama dari segalanya. Dalam situasi atau kondisi apa dan bagaimanapun kita.
Saudara-saudaraku, terlebih di bulan ini, bulan ramadlon, bulan spesial yang memiliki banyak keutamaan atau keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya.
Diantara keutamaan bulan ramadhon itu adalah bulan dibukanya pintu-pintu pahala kebaikan berupa ibadah, memperbanyak amalan ibadah dan kebaikan, sehingga bulan ini disebut bulan pendidikan atau pelatihan (Training Center). Kemudian, dari anjuran memperbanyak amalan-amalan tersebut dilipatgandakan pula pahalanya, sehingga disebut bulan penuh berkah.
Selain itu, keutamaan bulan ramadhon ini juga ditutupnya pintu-pintu neraka dan dibelenggunya tangan-tangan syetan, sehingga disebut bulan suci. Bulan pencucian diri dari segala kotoran diri atau dosa dengan media terutama amalan puasa. Yakni puasa secara fisikal menahan hawa nafsu perut di siang hari (nafsu dhohiri) sekaligus mengendalikan nafsu maknawi (nafsu bathini) sepanjang hari.
Salah satu media sebagai musabab istimewanya bulan Ramadhon itu selain puasa, memperbanyak zakat, memperbanyak sodaqah, perilaku baik, menjaga diri dari maksiat, adalah memperbanyak ibadah salat.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Dirahmati Allah
Tidak ada suatu bulan Rasulullah saw banyak melakukan dan menganjurkan salat sebagai ibadah sunnah melainkan bulan ramadlon saja, yakni berupa solat sunnah tarawih dan witir, selain peningkatan salat wajib dan sunnah rawatib.
Ini menggambarkan, bahwasanya selain karena bulan ini terdapat bonus-bonus spesial sebagai pahala ibadah, lebih dari itu agar kita terdidik untuk membiasakan diri melakukan dan menegakkan salat secara istiqamah. Sehingga di sini tersimpan sebuah harapan yang paling penting, bahwa berakhirnya bulan suci ini kita menjadi terbiasa menegakkan salat dan amalan-amalan ibadah dan kebaikan lainnya.
Yang tidak solat sebelum ramadlon, di bulan ramadlon ikut-ikutan salat jama’ah tarawih di Masjid, usainya ramadlon menjadi terbiasa gemar melakukan salat dan berjama’ah di Masjid. Yang sudah biasa melakukan salat sebelum ramadlon, di bulan ramadlon makin semangat ikut bersama berjama’ah tarawih di Masjid, setelah bulan ramadlon menjadi terbiasa makin giat menegakkan salat dan pergi ke Masjid.
Di sinilah sebetulnya salah satu inti yang terpenting dari momen ramadlon sebagai bulan penuh keistimewaan, bulan suci, bulan penuh berkah, dan bulan pendidikan itu, yakni sebuah harapan konsistensi atau keistiqamahan atau kelanjutan ibadah-ibadah serta amalan-amalan baik di bulan-bulan berikutnya.
Bayangkan saja, ketika tiba bulan puasa Masjid-masjid menjadi penuh dg para jama’ah bahkan sampai-sampai melebihi kapasitas ruangan Masjid, karena saat itu orang yg tidak salatpun atau tidak pernah salat di Masjidpun menjadi ikutan ibadah berombongan di Masjid, dari yang sepuh hingga anak-anak kecilnya dibawa ke Masjid, betapa indahnya hidup ini kalau kebiasaan sepenuh bulan ramadlon seperti itu berlanjut terus hingga bulan-bulan berikutnya, orang-orang tetap giat dan gemar melakukan salat berjama’ah di Masjid-masjid atau di musholla-musholla.
Namun, alangkah emannya, kenyataan yang terjadi, jangankan selesai penuh sepanjang hari di bulan romadlon, di pertengahan bulan ramadhon saja sudah hilang tinggal sepersedikitnya saja. Maka, kejadian kenyataan inilah yang perlu kita rubah.
Sehingga, bulan ramadlon bukanlah hanya sekedar bulan seremonial puasa dan buka bersama dengan meriah, dan juga bukan sekedar giatan-giatan salat tarawih dan tadarusan di Masjid-masjid, dan apalagi bukan sekedar sebagai momen mengais rizki di acara ta’jilan saja, lebih dari sekedar semua itu adalah dampak perubahan keistiqamahan dalam beribadah dan berbuat baik setelahnya. Dengan demikian, inilah sejatinya akan betul-betul terasa keistimewaannya bahwa bulan ramadlon adalah bulan suci dan penuh berkah.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Diridloi Allah
Betapa pentingnya ibadah salat, sampai-sampai di bulan khusus puasapun Allah menempatkannya secara spesial, demi melatih manusia agar terbiasa menegakkannya sepanjang masa.
Demikian itu, karena salat memiliki nilai-nilai spesial sebagai salah satu perintah Allah swt diantanya, salat adalah perintah awal sebelum ajaran lainnya diperintah oleh Allah yang terurai dalam rukun Islam sekaligus menjadi media ibadah yang menyambungkan diri kita selalu ingat kepada Allah sebagai Tuhan Pencipta; dengan salat kita bisa berkomunikasi atau ingat kepada Allah secara langsung. Sebagaimana firman Allah swt:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya, Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS, Thaha: 14).
Di samping itu, salat adalah amalan yang akan dihisab awal kali di hari kiamat kelak sekaligus menjadi neraca penentu kondisi dan posisi seseorang di mata sesama manusia terlebih di sisi Allah swt. Sebagai mana Sabda Rasulullah saw: Dari Abu Hurairah, Beliau mendengar Rasulullah saw bersabda,
 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ
Artinya, “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” 
Selanjutnya, Salat dapat mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Sebagai mana firman Allah swt:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS, Al 'Ankabuut: 45)
Dan ini juga keistimewaan salat yang tidak kalah menariknya, yakni menjadi media manusia agar bisa hidup tenang, sukses, selamat, dan bahagia dunia akherat. Dengan bahasa lain, dengan salat kita terjauhkan dari kehidupan yang sempit, galau, dan kacau. Berarti sebaliknya, kalau tidak salat justru hidup kita kacau balau dunia dan neraka di akherat. Karena sama halnya kita jauh dari Allah yang Maha memiliki segalanya ini. Sebagaimana ayat-ayat berikut:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِين الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya (mati).” Al-Baqarah ayat 45-46.
Pada surat Al-Ma’aarij: 19-23 Allah juga menjelaskan:
 إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا,  إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا,  وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا, إِلا الْمُصَلِّينَ, الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ,,,
Artinya, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya,…”.
Pada ayat yang lain Allah menegaskan:
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ إِلا أَصْحَابَ الْيَمِين فِي جَنَّاتٍ يَتَسَاءَلُونَ عَنِ الْمُجْرِمِينَ مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ
Artinya, “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka saling bertanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka Saqar?" Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian" (Al-Muddasstir: 38-47).
Pada ayat ini Allah menggambarkan bahwa awal kali pengakuan yang menyebabkan manusia disiksa di dalam api neraka adalah karena tidak melakukan salat.
 فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّين  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِم  سَاهُونَ ْ….
Artinya, “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS, Al-Ma’un: 4-7).
Dalam ayat yang lain,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Artinya, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (di dalamnya termasuk lalai mengingat Allah atau tidak salat), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Selain penegasan-penegasan dari firman Allah dan Hadist Rasul di atas, filosofi salat juga tercermin dalam untaian-untaian adzan yang dikomandankan tiap lima waktu.
Hayya ‘alas sholah….2X
Hayya ‘alal falah….2X
Di sini tersebut, “Hayya alas sholah” dulu, yang artinya mari kita salat. Lalu disusul “Hayya alal falah’, yang artinya mari kita menuju kemenangan atau keberuntungan. Ini maksudnya, salat adalah pintu manusia bisa hidup beruntung selamat bahagia dunia akherat. Kalau kita ingin selamat, bahagia, atau menang dalam menjalani arena kehidupan di dunia ini kita harus menegakkan salat. Tidak boleh tidak. Bukan kita dapat hidup tenang dahulu baru salat.
Saudara-saudaraku jama’ah salat jum’at yang Dirahmati Allah
Telah jelas, kalau demikian pentingnya dan pengaruhnya salat dalam menentukan keselamatan dan kebahagiaan kita hidup di dunia sekaligus di akherat, masihkah kita bermalas-malas menegakkan salat, apalagi dengan sengaja meninggalkan salat!? Sudah jelas sekali penegasan ayat-ayat Allah dan Hadist-hadist Rasul-Nya bahwa tidak ada yang pantas bagi orang yang tidak salat melainkan siksaan yang pedih di dunia sekaligus di akherat. Na’udzubillahi min dzaalik.
Demikianlah beberapa keutamaan salat di bulan suci puasa ini, masih banyak keutamaan atau keistimewaan lainnya namun tidak mampu kita bahas pada kesempatan yang terbatas ini.
Akhirnya, kita selalu berharap dan memohon kepada Allah, agar selalu diberi keistiqamahan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya sekaligus menjauhi larang-larangan-Nya di bulan yang penuh berkah ini sampai sepanjang masa. Amin.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
باركالله لى ولكم بما فيه من الآيات والذكرالحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هوالسميع العليم.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ قَالَ اللهُ تَعَالَى: اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 Jatikerto Kromengan Malang, Jum’at Legi , 24 06 2015 M