Kamis, Februari 25, 2016

Peruqyahnya Makin Sehat Pasiennya Makin Melarat?

Seorang ibu ini adalah sepertinya seorang guru atau seorang pegawai, tapi juga rupanya seorang pengusaha. Karena ketika ngobrol dia sering menyebut teman-teman di kantor. Meski usianya sudah lumayan berumur, tapi anaknya masih kecil-kecil. Dua, laki dan perempuan. Mungkin dulu nikahnya agak tertunda.

Ibu ini mengenali saya melalui medsos online. Dia mengalami penyakit yang dipikirnya aneh, satu kakinya bengkak. Kaki yang kanan. Penyebabnya tak jelas. Tiba-tiba bengkak dan sakit. Dianogsa medis normal. Hingga ke dokter spesialis juga normal. Darahnya dan kadar gulanya semuanya dinyatakan juga normal. Jadinya bingung, normal tapi bengkak dan sakit.

Pergi ke tukang pengobatan alternatif juga tidak sembuh-sembuh. Pernah sembuh tapi sebentar, lalu kambuh lagi lebih lama. Juga pernah ke ahli ruqyah teman sekantornya, bahkan pernah diruqyah bersama-sama rekan kantornya juga tidak sembuh. Sembuhnya sewaktu baru selesai diruqyah. Sesaat kemudian kambuh lagi.

Konon, ada seorang rekan kantornya yang menemukan tulisan di sebuah blog tentang pengobatan alternatif dg terapi daun bidara. Blog itu lengkap dg nomor ponsel penulisnya. Itulah blog saya. Sehingga setelah nomor ponsel (087850050084 / 081216666284) itu dihubungi maka arahnya ke saya.

Singkat cerita, ibu itu datang ke rumah saya menerapi sakit kakinya itu. Saya terapi dg ruqyah ayat2 Al-Qur’an dan herbal madu ruqyah dan daun bidara itu. Alhamdulillah, dg kebesaran Allah, baru beberapa menit diruqyah dia muntah-muntah banyak sekali. Setelah banyak muntah kakinya makin terasa ringan dan makin bebas digerakkan.

Seminggu sebelumnya sudah dilakukan terapi daun bidara yang dibuat mandi dan minum madu ruqyah yang saya berikan, dia lakukan di rumahnya, ternyata hasilnya kakinya makin terasa enak, tapi sakitnya tetap terkadang datang. Sehingga dilanjutkan ruqyah itu dan muntah-muntah. Al-hamdulillah sembuh.

Di sini ada hal yang menarik kita bahas, tentang penyakit ibu itu yang diruqyah jama’ah rekan sekantornya tapi kok tidak sembuh terus. Bukankah ini juga ruqyah yang ayat-ayat Al-Qur’an dibaca? Kenapa kok tidak sembuh bahkan sampai berjama’ah, bukankah bahkan lebih ampuh dg berjama’ah?!

Jawabannya, bukan berarti ayat-ayat Al-Qur’an tidak ampuh, atau yang meruqyahnya yang bacaannya tidak diterima. Bukan itu. Bagaimanapun ayat-ayat suci Al-Qur’an tetap mulya dan ampuh. Hanya saja cara memperilakukan atau memakainya yang berbeda, atau cara ruqyahnya yang perlu diperhatikan.

Tidak jarang para peruqyah mengobati pasien bacaan Al-Qur’annya kurang dihayati, atau bisa jadi tidak konsentrasi atau fokus, di dalam hatinya isinya pikiran macam-macam, atau ada tujuan materilistik, atau pasiennya tidak yakin sembuh. Ini yang membuat ayat Al-Qur’an seakan tak berpengaruh sama sekali.

Di samping itu, bisa jadi juga, peruqyah atau pasiennya kurang sabar. Di ruqyah satu kali sudah dianggap sembuh. Setelah itu tak butuh lagi. Peruqyah pergi tak urus lagi, pasien juga tak butuh lagi. Selesai.

Ini ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama, peruqyah yang kurang meyakinkan dan niatnya kurang bulat untuk betul-betul membantu pasien hingga sembuh dg penuh keikhlasan. Sehingga posisi pasien sekedar sebagai objek pengobatan. Apalagi peruqyah tujuannya sekedar imbalan. Kalau demikian, awal kali melihat kondisi ekonomi atau penampilan pasien yang kurang meyakinkan saja, itu saja sudah tak begitu bergaerah, apalagi mau balik lagi mengobati.

Kedua,  pasien yang sudah tak mampu lagi membayar peruqyah, karena peruqyahnya sudah diberi imbalan saat ruqyah awal kali. Pasien berpikir, ruqyah pertama mengeluarkan biaya lalu kambuh lagi, maka berpikir untuk memanggil peruqyah kedua kalinya yang mestinya bayar lagi. Menjadi kawatir: ruqyah, bayar, kambuh, ruqyah lagi, bayar lagi, kambuh lagi, ruqyah lagi, bayar lagi. Menjadi berpikir, tidak mungkin terus-terus begitu. Peruqyahnya tambah sehat, pasiennya makin melarat. Hal-hal inilah yang saya pikir menyebabkan pasien ruqyah sembuh sementara lalu kambuh lagi dan tak sembuh-sembuh. Syukur-syukur ruqyah sekali langsung sembuh.

Dari semua itu, tidak mudah menjadi seorang peruqyah dalam terapi pengobatan atau kesehatan. Bukan sekedar butuh memahami metode-metode ruqyah dan pandai membaca Al-Qur’an. Tapi lebih penting dari semua itu adalah: penghayatan bacaan-bacaan Al-Qur’an dan keikhlasan. Keikhlasan berarti setiap pasien dg segala kondisinya harus dibuat nyambung dg dirinya. Betul-betul dibantu atau dibelani hingga sembuh tanpa mengharap imbalan apa-apa melainkan ridlo Allah semata. Dianggap seakan saudara sendiri yng harus dibantu dan dibelani. Bukan sekedar objek pesakit. Soal imbalan tawakkalkan pada Allah. Bahkan, kalau bisa, kesembuhan pasien sehingga pasien bisa beraktifitas lagi dan melakukan ibadah lagi dg normal, ini adalah bentuk imbalan yang tiada tara.

Pandangan seperti demikian bukan berarti memaksa sang pasien pasti harus sembuh, memaksa Allah, namun ini semacam ghirah jiwa yang sangat yakin bahwa Allah Maha welas asih dan Maha Penyembuh yang memerintahkan hamba-hamba-Nya agar berusaha sekuat tenaga dalam memohon kepada-Nya. Memohon ampun, rizki, kesembuhan, kesehatan, keselamatan, dan lainnya.

Juga bukan, memurahkan  atau membuat para peruqyah yang membaca Al-Qur’an tidak ada nilainya. Bukan begitu. Tapi justru mendongkrak martabat dan menguatkan keyakinan para peruqyah dan lainnya bahwa Allah Maha Tahu, Maha Memahami, dan Maha Kaya Pemberi rizki. Allah tidak tinggal diam dg hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Peruqyah ikhlas adalah di jalan-Nya. Peruqyah tidak serendah para buruh yang sekedar mengharapkan bayaran materi.
Jatikerto Kromengan Malang, 18-02-2016